Sejarah Steamer Ship Blinjoe (SS. Blinjoe) - 1929 s/d 1959


SS. Blinjoe, Builts on 1929, 1.331 Tonnage, built by Int. Scheepsbouw Mij. De Maas, Slikkerveer, Rotterdam | 1959 scrapped at Hong Kong

Pada tanggal 29 Januari 1929 perusahan pelayaran pemerintah Belanda memesan dua buah kapal dengan berat masing-masing 1.175 GT dan 1.441 GT yang diberi nama SS. Belawan dan SS. Blinjoe. Kedua kapal ini dibangun oleh sebuah galangan kapal Scheepsbouw Maatschappij. Int di Meuse, Slikkerveer, Rotterdam sebagai steamer freighter atau kapal uap kargo. Kapal SS. Blinyu dibangun dalam waktu setahun yakni tahun 1930. 
Selama perang, SS. Blinjoe telah ditugaskan melayani Royal Indian Navy atau Anngkatan Laut India dibawah komando colonial Belanda. Adapun perjalaan yang dilakukan oleh SS. Blinjoe yang tercatat, antara lain : 

  1. Berangkat dari Pelabuhan Bombay, tanggal 24 August 1943. Tiba di Colombo Tanggal 29 August 1943 
  2. Berangkat dari Colombo, Tanggal 1 September 1943. TIba di Madras Tanggal 4 September 1943
  3. Berangkat dari Calcutta Tanggal 30 March 1944. Tiba di Colombo Tanggal 6 April 1944. 
  4. Berangkat dari Calcutta Tanggal 8 April 1944. Tiba di Colombo Tanggal 15 April 1944 
  5. Berangkat dari Calcutta Tanggal 15 April 1944. Tiba di Colombo Tanggal 22 April 1944 
  6. Berangkat dari Colombo on 24 April 1944. Tiba di Bombay on 29 April 1944 dalam pelayarannya yang ke-74 kali. 
Pada akhir Nopember 1945, SS. Blinjoe kembali ke Tanjung Priok, Jakarta untuk melayani sejumlah pelayaran didalam negeri. Beberapa catatan tertulis bahwa Kapal SS. Blinjoe pernah merapat di Pelabuhan Jambi, Banjarmasin, Kotawaringin, serta pernah kembali ke Belinyu di utara Bangka. 

Dari penyerahan kedaulatan pada 27-12-1949 diketahui bahwa Republik Indonesia Serikat Belanda tidak diakui oleh West New Guinea (Papua Barat). Disepakati bahwa daerah ini harus dinegosiasikan lebih lanjut. Dalam satu tahun Negosiasi selama periode 1950-1960 antara Belanda dan Indonesia tidak mengarah pada hasil yang diinginkan oleh Indonesia mengenai pengembalian New Guinea.Situasi politik di Belanda dan kesan buruk penduduk Belanda tentang Indonesia (Soekarno) tidak memungkinkan untuk dicapainya kesepakatan. Diskusi tentang kemungkinan pengembalian daerah Indonesia hampir tidak mencapai hasil apapun ketika perundingan pertama kali pada tahun 1954 dan sekali lagi pada tahun 1957, kasus (resolusi New Guinea) disampaikan kepada Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. 

Untuk membuat Belanda bersikap permisif terhadap kekuatan yang didukung oleh tindakan pemerintah Indonesia untuk mempersempit kepentingan ekonomi Belanda di Indonesia. Pada tanggal 2 Desember 1957, pemerintah Indonesia menyatakan pemogokan untuk seluruh staf Indonesia di semua perusahaan-perusahaan Belanda. Meskipun itu berlanjutkan keesokan harinya dengan pemogokan serikat pejabat dan karyawan Perusahaan Pelayaran Belanda, KPM Indonesia yang berkantor pusat di Jakarta dan menuntut penyerahan manajemen perusahaan. Akhirnya, pada 3 Desember 1957 pemerintah Indonesia menangkap dan melarang empat puluh kapal Belanda untuk meninggalkan pelabuhan, salah satunya kapal dengan nama lambung SS. Blinjoe. Dalam bulan-bulan sebelumnya itu karena masalah Nugini sebagian besar staf KPM Indonesia juga menjadi memberontak, dinyatakan dalam pemogokan, anti-lembur dan perlahan-lahan tindakan demonstrasi. Pada tanggal 5 Desember, Pemerintah Belanda dalam sebuah pesan negosiasi yang menyatakan bahwa kapten kapal bisa berangkat ke pelabuhan di luar Indonesia secepatnya dan berlayar dibawah bendera Indonesia. Kapal yang berangkat keluar Indonesia pada waktu itu berjumlah 15 buah. Kapal-kapal tersebut dilepas oleh Pemerintah Indonesia dibawah tekanan perusahaan asuransi Lloyds of London. SS Blinjoe pergi dari Indonesia dengan diawaki oleh tiga anggota awak , termasuk seorang insinyur kepala kapal. Tanggal 31 Maret 1958, SS. Blinjoe berlabuh di pelabuhan Singapura. Karena SS. Blinjoe tidak lagi mendapatkan izin untuk berlayar di perairan Indonesia, tanggal 1 Oktober 1959 kapal ini kemudian dijual ke sebuah galangan kapal di Hongkong untuk di”besi tua”kan. Dengan dibongkarnya kapal SS. Blinjoe di Hongkong, maka berakhirlah riwayat perjalanan kapal tersebut. 

Ruang Mesin SS. Blinjoe
Ruang Mesin SS. Blinjoe

SS. Blinjoe bersandar di Pelabuhan Jambi

SS. Blinjoe dalam perjalanan ke Kalkuta, India

SS. Blinjoe bersandar di Pelabuhan Berok, Belinyu


SS. Blinjoe bersandar di Pelabuhan Kotawaringin, Bangka dalam perjalanan Singapura-Banjarmasin


Klik Spesifikasi Teknis

Sumber: Dokumentasi KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) Belanda, Museum der Basler Mission Basel, Missions Strasse 21

1 comment:

  1. Admin, saya mohon minta kontak admin, ada hal yang penting yang ingin saya tanyakan :)

    ReplyDelete