latest articles

Cuma ingin MEKAR bukan ingin MAKAR ( Belinyu)

Blinju, Blinjoe (belinyu), sebuah wilayah di utara Pulau Bangka yang telah disebutkan oleh Thomas Horsfield dalam sebuah jurnal yang berjudul Journal of Indian Archipelago and Easter Asia “Report on the Island of Banka” section I Geographical Description of Island. 

Dalam ceramah Sir Thomas Stanford Raffles di Batavian society of arts and sciences pada bulan sept 1815, Sir TS Raffles mengacu pada sebuah laporan pada tahun 1812 mengenai Pulau Bangka yang ditulis oleh Dr. Horsfield. Dalam laporannya diketahui bahwa Belinyu telah menjadi salah satu distrik pertambangan di semenanjung timur teluk Kelabat. Saat itu di Belinyu terdapat sebuah tambang utama yang disebut “towallam” yang berjarak sekitar 4 mil dari benteng Belinyu. Tambang ini bertetangga langsung dengan tambang sungai Pandjie yang kala itu produksinya telah menurun. namun para penambang di sekitar sungai panji tetap mendirikan tempat tinggal dan membentuk desa kecil yang mereka namakan dengan nama yang sama dengan sungai dekat mereka tinggal.

Dalam buku ensiklopedi ringkas Hindia Belanda, digambarkan bahwa pada tahun 1819 Belinyu digambarkan dengan sebuah wilayah yang ramah penduduknya meskipun kenangan warna warni patriotik tak dapat dikesampingkan. Dijelaskan juga bahwa pada awal abad 19 Belinyu sudah menjadi tempat yang direncanakan akan menjadi ibukota kabupaten Departemen Utara Bangka dan distrik pertambangan yang sama. Karena lokasinya di mulut sungai di Blinjoe dan Teluk Kelabat adalah pelabuhan yang ideal untuk industri pelayaran. (T.J. Bezemer; Beknopte Encyclopaedie van Nederlandsch-IndiĆ«, Martinus Nijhoff,’s Gravenhage, 1921)

Sedangkan dalam Buku Undang-Undang Hindia Belanda No. 291 (tentang pembagian Residen Bangka dalam (districten) Kabupaten dan Kecamatan (onderdistricten) dijelaskan dalam lampirannya bahwa Belinyu dicantumkan dalam lajur kolom Kabupaten (districten) dan di bagi menjadi 2 Kecamatan (onderdistricten), yaitu : Blinjoe yang dipimpin oleh seorang Demang dan Pandjie-Sekka yang dipimpin oleh seorang Batin. Batin dan Demang tersebut digaji oleh Pemerintah Dalam Negeri Hindia Belanda sesuai dengan Staatsblad Van Nerderlandsch Indie (Undang-Undang Hindia Belanda) Nomor 290 tentang pengaturan staff pemerintahan pribumi dan china pada residen Bangka sesuai dengan Keputusan Gubernur Hindia Belanda Tanggal 16 Desember 1883. Pada Staatsblad Van Nederlandsch Indie No. 291 yang ditetapkan tanggal 16 Desember 1883 ini pada Butir Kedua ditulis bahwa Undang-Undang ini mulai berlaku Tanggal 01 Januari 1884.

Setelah ditandatangani Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tanggal 14 Desember 1949 dan berdasarkan konstitusi ini Negara berbentuk Federasi dan meliputi seluruh daerah Indonesia, yaitu daerah bersama meliputi Daerah daerah seperti; Jawa tengah, Bangka, Belitung, Riau, Daerah Istimewa Kalimantan Barat, Dayak Besar, Daerah Banjar, Kalimantan Tenggara dan Kalimantan Timur merupakan satuan satuan kenegaraan yang tegak sendiri disamping Negara Republik Indonesia Kemudian Negara negara Federal bentukan Belanda serta daerah daerah Indonesia selebihnya yang bukan daerah daerah bagian.

Pada tanggal 22 April 1950 diangkatlah R. Soemardjo sebagai Residen Bangka, Pulau Bangka ditetapkan menjadi Kabupaten yang terdiri atas 5 (lima) Kewedanaan dan 13 (tiga belas) Kecamatan. Kewedanaan tersebut meliputi Bangka Utara yang beribukota di Belinyu, Kewedanaan Sungailiat yang beribukota di Sungailiat, Kewedanaan Bangka Tengah beribukota di Pangkalpinang, Kewedanaan Bangka Barat beribukota di Mentok dan Kewedanaan Bangka Selatan beribukota di Toboali. Sebagai Bupati Bangka pertama diangkatlah R. Soekarta Martaatmadja.

Saat ini, dari 5 kewedanaan yang di bentuk pada tahun 1950, 4 kewedanaan telah menjadi kota Kabupaten bahkan kotamadya terkecuali Belinyu yang sampai saat ini masih saja berjuang untuk menjadi sebuah daerah otonomi baru yang bernama Kabupaten Bangka Utara
Singkap!

Masa Awal Pertambangan Timah di Banka

Di Belo, usaha-usaha timah terarah ke daerah-daerah di sekitar Teluk Klabbet. Letak daerah ini sangat baik untuk pelayaran kapal-kapal yang dahulu biasa digunakan oleh penduduk. Daerah itu merupakan daerah yang penting selama tambang-tambang timah di sana masih produktif. Tambang-tambang timah di daerah itu terdapat di sayap kiri dan kanan teluk itu.
Di sebelah timur, tambang-tambang di Lumut dan Belinyu digarap, bahkan sampai saat Horsfield meneliti. Sebaliknya, tambang-tambang di Sayang dan Pand-jee sudah tidak produktif lagi. Di sebelah barat, tambang-tambang yang tua terdapat di daerah Klabbet—yang kini disebut Klabbet-Lama dan Anten. Setelah tambang-tambang di sini menjadi tidak produktif, penggarapan timah bergeser ke barat, ke Mampang dan Tinga (yang terdapat di tengah-tengah semenanjung itu). Tambang-tambang paling produktif di Pulau Banka masih terdapat di daerah ini, di dekat permukiman Klabbet Baru dan Jebus.

Semakin lama, semakin banyak orang Cina datang untuk menggarap dan mengusahakan pertambangan di Banka. Jumlahnya bahkan melebihi permintaan akan tenaga kerja di daerah-daerah yang disebutkan di atas. Karena itu, usaha pertambangan lalu berkembang ke arah pantai timur.

Sungie-Liat, daerah yang paling dekat dengan Sayang (di ujung selatan teluk itu) merupakan daerah yang pertama-tama digarap di daerah ini. Menurut cerita warga-warga tertuanya, pada awalnya, tambang-tambang di daerah ini menghasilkan banyak timah. Dari Sungie-Liat, usaha pertambangan timah bergerak ke sepanjang pantai timur, sampai ke Tanjong Merikat–di ujung paling timur Pulau Banka, di sebelah utara Selat Sipar. Setelah itu, berturut-turut dibuka pertambangan di Pangkal Penang, Merawang, Kaba dan beberapa tempat pertambangan lain yang tidak begitu penting

Kegiatan pertambangan di daerah-daerah di atas hampir sepenuhnya dijalankan oleh orang Cina. Teknik penambangan yang digunakan adalah teknik yang biasa digunakan di semenanjung di utara dan di Belo. Namun, ciri tanah di daerah lumut, Klabbet dan Anten memberikan banyak kemudahan. Di tempat-tempat itu, timah banyak diketemukan di permukaan tanah atau hanya tertutup lapisan tanah yang tipis saja. Beberapa tempat saja yang sangat kaya akan timah, namun di tempat-tempat itu, timah yang diketemukan merupakan timah berkadar tinggi. Dengan seksama memilih daerah-daerah kaya timah dengan persediaan air yang cukup banyak untuk mengolahnya, penggarap-penggarap itu mampu menghasilkan timah yang jauh lebih banyak. Tak heran bahwa banyak di antara penggarap timah itu kemudian mampu menabung untuk mudik ke negeri asalnya. Ini pun merupakan cerita yang disampaikan oleh orang-orang tua di daerah itu.

Dari Belo, usaha pertambangan dikembangkan juga ke arah timur. Tambang-tambang di Tampelang dibuka tak lama setelah tambang-tambang di Sungie-Liat. Namun, pada umumnya, pesisir barat rupanya tidak sekaya pesisir timur. Karena itu, orang Cina tidak membangun permukiman tetap di daerah sebelah selatan Tampelang.

Di daerah luas diantara Kabo dan Pangkal-Pinang juga dibuka beberapa pertambangan. Tambang-tambang ini sepenuhnya diusahakan oleh penduduk asli Banka. Orang Cina enggan menggarap timah olahan dari daerah yang jauh. Penduduk asli daerah ini biasanya disebut Paku (seperti halnya penduduk di Biliton (atau, Bliton). Mereka dikenal sebagai penggarap timah yang bekerja di sebagian besar Pulau Banka.

Di Tubuali, Nyeery, Ulim, Permissang, Banko-Kutto dan daerah-daerah sekitarnya sepanjang pesisir barat (sampai ke selatan Kotto-Waringin), usaha pertambangan juga hampir sepenuhnya dijalankan oleh penduduk asli yang mengolah timah dengan cara yang diperkenalkan oleh orang Cina. Sistem mengumpulkan timah dengan kelompok-kelompok kecil tidak memungkinkan penerapan metode yang biasanya digunakan di daerah lain di Banka. Tanah di daerah-daerah di atas—sampai ke ujung selatan pulau—banyak memiliki kandungan timah.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa usaha pertambangan telah berkembang cepat di hampir seluruh daerah di Banka, terkecuali daerah paling selatan yang terdapat di antara batas timur Tubuali dan ujung Tanjong Merikat serta benteng di Gunung Maras dan daerah di sebelah baratnya.

Pada tahun 1755, sebuah komisi khusus diutus dari Batavia untuk mengatur hal-ihwal VOC di Kesultanan Palembang dan kontrak-kontrak kerjasama yang telah dibuat. Laporan-laporan dari komisi itu memberikan informasi mengenai perkembangan usaha pertambangan di Banka di sekitar pertengahan abad itu. Sebuah lampiran di laporan-laporan itu memberikan angka-angka produksi timah yang dikirimkan dari Palembang ke Batavia, di antara tahun 1733 (setahun sebelum diusirnya Sultan Anom) sampai tahun 1754. Produksi timah itu perlahan-lahan meningkat—dari 1110 pikul (148.000 pon Inggris) menjadi lebih dari 16.000 pikul (2.133.333,33 pon Inggris). Produksi paling besar dihasilkan pada tahun 1751, yaitu sejumlah 16.884 pikul.

Dari berbagai wawancara yang dilakukan seorang anggota komisi untuk mengumpulkan data di Minto, dibuatlah kalkulasi kemungkinan produksi tahunan tambang-tambang yang ada di masa itu. Perkiraan produksi tahunan sebesar 73.000 pikul diperoleh dari menghitung banyaknya tungku pembakaran yang ada di Banka dan jumlah timah yang rata-rata setiap hari diolah di setiap tungku itu. Data dari perhitungan ini tidak terlalu jelas dan rupanya agak berlebih. Pada saat ini, tambang-tambang yang ada terdapat di Minto, Belo dan daerah di sekitar Teluk Klabbet.

Pada tahun 1756, Sultan Mahmud Badar Udin (I) meninggal dunia. Tahtanya diwariskan kepada anaknya yang bergelar Sultan Ratu Achmat Nadja Mudin. Sultan terakhir ini berkuasan sampai tahun 1776. Di masa ini, baik Palembang maupun Banka aman dan tenteram. Kemakmuran di masa kesultanan Mahmud Badar Udin melegenda. Ketika sultan yang baru dinobatkan sebagai pengganti kakaknya yang dikucilkan, ia memutuskan untuk mengambil nama kakeknya, seorang sultan yang dihormati dan dikenang baik oleh warga Palembang—bahkan sampai sekarang.

Pada masa ini, hasil produksi pertambangan meningkat sampai-sampai banyaknya timah yang dikirim ke Batavia (sesuai kontrak) melebihi permintaan dari Batavia. Banyaknya produksi itu mengundang penjualan gelap dan penyelundupan timah ke luar Banka. Hal ini tidak diberantas dan di kemudian hari, banyak menimbulkan kesulitan. Banyak warga Palembang yang diwawancarai oleh Horsfield memiliki kenangan baik mengenai masa ini. Dokumen-dokumen di Batavia membenarkan kenangan mereka tentang kemakmuran saat itu.

Sultan Ratu Achmat Nadja Mudin, yang dikenal sebagai Susunan Ratu di masa akhir kekuasaannya, meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya: Sultan Mohamed Baha Udin. Masa pemerintahannya berlangsung sampai tahun 1803. Dalam masa awal pemerintahannya, aman-aman saja. Hasil tambang tahunan perlahan-lahan menurun karena keletihan tambang-tambang itu sendiri. Pada waktu itu, tambang-tambang di Minto dan Belo banyak ditinggalkan oleh orang Cina sehingga hampir sepenuhnya digarap oleh orang Melayu dan penduduk asli. Pustaka Acuan:
Thomas Horsfield, M.D. “Report on the Island of Banka,” dalam The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Vol. 2. (hal. 299 – ..)
Singkap!

Ikan Asin, Tripang, Jenggot Duyung dan Perompakan (Orang Laut Klabat)

Setiap perahu berlayar besar. Setiap hari, perahu-perahu itu berlayar—tidak terlalu jauh; dan setiap malam, setiap perahu berlabuh di tepian pantai, terikat dengan tali ke sebuah tonggak. Perahu-perahu yang kecil biasanya dinaikkan ke atas pasir di darat. Kalau tersedia, perahu-perahu itu berlindung di teluk-teluk kecil atau muara-muara sungai.

Orang Rayad (Orang Laut) mencari dan membuat makanan dengan bahan-bahan yang disediakan oleh laut: ikan, kepiting atau aneka kerang. Semua itu dimakan tanpa pilih-pilih, tetapi yang sangat disukai sebetulnya sayur-mayur dan nasi. Horsfield terperangah melihat banyaknya makanan yang dapat dihabiskan oleh Orang Laut: jauh lebih banyak daripada makanan yang biasa dihabiskan oleh Orang Melayu. Makanan yang terbuat dari ikan barangkali kurang memberikan rasa kenyang. Nasi dan sayur-mayur memadatkan isi perut. Itu digaan Horsfield.

Tempat-tempat yang pernah ditinggali oleh Orang Laut selalu mudah dikenali karena banyak menunjukkan sampah dapur berupa sisa-sisa ikan, tumpukan kulit kerang dan sebagainya. Dari jauh, tempat-tempat itu sudah tercium oleh baunya yang terbawa angin. Kebersihan bukanlah hal yang tampaknya dianggap penting oleh Orang Laut. Banyak di antara mereka yang dirundung penyakit kulit dan gangguan pencernaan.

Segala pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan sehari-hari berkaitan dengan lingkungan tempat tinggal mereka: memancing atau menyiapkan keperluan untuk memancing. Kaum perempuan bertugas mengolah dan menyiapkan sejenis daun pandanus untuk dijadikan layar. Orang Laut yang tinggal menetap mengembangkan industri kecil-kecilan, yaitu mengeringkan dan mengasinkan ikan. Ini dipertukarkan untuk memperoleh beras dan keperluan hidup lainnya.

Di Teluk Klabbet, beberapa perahu kecil memburu tripang (Holothuria). Binatang laut itu ditusuk dengan tombak-tombak yang tajam. Setelah direbus dan dikeringkan, tripang itu laku dibeli orang Cina yang menggemarinya. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan tripang itu lumayan banyak. Orang Laut juga memperoleh penghasilan dari usaha meramu agar-agar yang banyak digunakan bahan untuk makanan rakyat setempat.

Sebagian besar orang Rayad yang tinggal di sekitaran Banka telah memeluk agama Islam. Yang berkelana di laut sekitar Banka masih kafir. Prilaku, gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari mereka tidak se’halus’ orang Melayu pada umumnya. Mereka berkulit coklat gelap, berperawakan gagah, bertenaga kuat dan piawai memainkan alat-alat dan persenjataan untuk mempertahankan diri. Banyak orang menggambarkan Orang Laut sebagai orang yang licik, lihay, berani dan cergas berusaha. Sifat-sifat ini memang diperlukan untuk menjalankan tantangan dan permasalahan dalam kehidupan mereka di atas laut. Namun, (sayangnya) seringkali mereka mengejawantahkan sifat-sifat itu tanpa peduli pengaruhnya pada orang lain. Jika kesempatan terbuka, mereka menyergap perahu-perahu yang lebih kecil, merampas segala barang yang dibawanya dan membunuh setiap orang di atasnya. Perikanan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Perompakan merupakan profesi yang lebih tetap dan pekerjaan ini didukung oleh kerabat kesultanan Rhio dan Linga yang mendapatkan keuntungan dari kiprah mereka di laut. Bahkan, ada pula yang menawarkan dukungan finansial agar usaha merompak itu semakin maju, dengan syarat pembagian hasil perompakan.

Lama-kelamaan, perkawinan campur di antara Orang Laut dengan orang-orang Melayu atau Cina semakin sering terjadi. Perkawinan dengan anak-anak perempuan para kepala adat membuka kesempatan bagi Si Menantu untuk menjadi pemimpin atau tokoh terkemuka di tempat itu. Hal ini, misalnya saja, juga dilakukan oleh Panglima Raman. Banyak warga desa Kampak, permukiman utama orang Rayad di Banka, merupakan orang Cina yang telah menikah dengan perempuan desa itu dan kemudian mengembangkan hidup di antara kerabat-kerabat barunya. Ketika Horsfield di Banka, tokoh utama di sana merupakan keturunan dari perkawinan campuran seperti itu: ayahnya berbangsa Cina yang berkerabat dengan orang Rayad melalui hubungan perkawinan. Lelaki itu sendiri semakin menguatkan jaringannya dengan menikahi anak perempuan kepala adat di desa tempatnya tinggal.

Barangkali tak salah kalau ada yang mengatakan bahwa Demang Minyak merupakan orang yang paling terkenal di Pulau Banka. Demang Minyak lahir di Sungie Ulu sekitar 50 tahun sebelum Horsfield bertemu dengannya (Catatan FA: jadi sekitar tahyn 1763). Ketika ia lahir, belum ada permukiman tetap di Sungie Ulu, tetapi tempat itu sudah menjadi markas utama orang Rayad di Banka. Di masa mudanya, ia dikenal sebagai pemuda yang lincah dan biasa berkeliling pulau bersama sekelompok seniman penghibur. Setelah dewasa, kemampuan dan kegesitannya menarik perhatian utusan-utusan Sultan yang datang dari Palembang. Demang Minyak membantu mereka mendirikan permukiman di Jebus. Sebagai tanda terima kasih, Demang Minyak kemudian diundang audiensi ke Kesultanan di Palembang. Oleh sebab ia berpengaruh besar di dalam lingkungan orang Rayad (antara lain, karena ia menikahi anak perempuan kepala orang Rayad), ia pun diangkat sebagai perwakilan Kesultanan Palembang dan diangerahi gelar Demang Surantakka

Sehari-hari, ia dipanggil Demang Minyak; tetapi lelaki ini sebetulnya pantas pula menyandang gelar Panglima Raman dari Banka karena secara harfiah, gelar itu berarti pemimpin besar. Bias negatif dari kedudukan sebagai pemimpin tertinggi kelompok masyarakat yang ditakuti menjadi pupus oleh pengangkatannya sebagai utusan resmi Palembang. Demang Minyak memiliki banyak kelebihan yang diwarisinya dari keluarga ibundanya, ditambah dengan kelebihan-kelebihan dari budaya Cina. Kelebihan-kelebihan itu memberikan banyak keuntungan baginya bila ia hendak berkiprah sebagai perompak. Namun, dalam hidupnya yang panjang dan produktif, ia bergiat menentang dan menumpas para perompak. Prestasi terbesarnya sebagai utusan Palembang adalah mengalahkan Panglima Raman dalam pertempuran di utara Pulau Banka. Setelah keok oleh Demang Minyak, Panglima Raman pindah ke Linga dan kemudian, tidak lagi menampakkan diri di atas laut.

Demang Minyak tidak berhenti. Di kemudian hari, ia bergiat mengendalikan kegiatan pukat di sekitaran Banka. Perahu dan kapal-kapal miliknya sendiri dan milik orang Rayad cocok untuk melakukan hal itu. Pustaka Acuan: Thomas Horsfield, M.D. “Report on the Island of Banka,” dalam The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Vol. 2. Tempat-tahun (hal. 299 – ..)
Singkap!

Orang Laut dan Orang Gunung di Bangka


Penduduk pedalaman Banka biasanya disebut Orang Gunung. Mereka termasuk bangsa Melayu, namun di mata Horsfield, peradaban mereka kurang maju dibandingkan dengan orang-orang Melayu di tempat-tempat lain.

TAMPAKNYA Orang Gunung di Banka sama dengan berbagai suku bangsa Binua yang tinggal di bagian selatan pedalaman Semenanjung Melayu.

Seorang penjelajah Inggris, Mr. Willer, yang pernah tinggal selama 5 tahunan di daerah Batak, mengungkapkan bahwa di daerah itu ada kelompok masyarakat, yaitu orang Lubu, yang mirip dengan orang Binua dari Johor. Pun mereka berbahasa Melayu. Ada yang berpendapat bahwa semua penduduk daerah Semenanjung Melayu merupakan keturunan dari orang Minangkabau. Namun, Horsfield menyangsikan kebenaran pendapat itu. Penelitian yang lebih mendalam di Sumatra, dan khususnya dengan dan tentang Orang Lubu barangkali dapat memberikan jawab atas pertanyaan apakah mereka dan Orang Binua merupakan nenek-moyang orang Melayu. Barangkali juga, orang Lubu merupakan keturunan Orang Binua. Demikianlah pertanyaan yang ada di kepala Horsfield. Bagaimana pun, asal-usul Orang Gunung belum dapat ditelusuri. Di masa lalu, hampir tak pernah mereka berhubungan dengan orang Eropa. Pun, mereka jarang berhubungan dengan orang-orang Melayu yang tinggal di sekitarnya.

Pada waktu orang mulai membuat permukiman di Minto, sebagian Orang Gunung mulai memeluk agama Islam. Ketika Horsfield di Banka, sebagian di antara mereka ‘kafir’ (istilah dari Horsfield). Bahasa Melayu yang biasa digunakan orang Gunung bercampur dengan istilah-istilah yang khas di dalam kebudayaan mereka sendiri atau kata-kata yang diadopsi dari bahasa Jawa.

Walau sebetulnya tidak memiliki system pemerintahan tertentu, Orang Gunung dikenali sebagai kelompok masyarakat tersendiri yang tinggal wilayah-wilayah tertentu. Setiap distrik/permukiman dikepalai oleh seseorang bergelar ‘Batin’, walau ia tak memiliki apa pun untuk mendukung wewenang dan kekuasaannya. Tak ada pula satu orang kepala adat yang berpengaruh atau berkuasa atas seluruh atau sebagian masyarakat Orang Gunung di Banka. Jabatan sebagai ‘Batin’ merupakan kedudukan patriarchal. Ia dihormati sebagai orang yang mempersatukan warga masyarakat yang dipimpinnya. Nasehatnya lebih diharapkan daripada bantuannya untuk menghadapi kesulitan dan permasalahan.

Gelar dan jabatan ‘Batin’ diturunkan dari ayah ke anak lelaki. Pewarisan gelar itu terjadi dengan persetujuan semua ‘mattagawe’ di dalam distrik yang terkait. Yang disebut ‘mattagawe’ adalah lelaki-lelaki yang sudah menikah di suatu wilayah, yang sesekali dipanggil untuk menjalankan tugas dari Sultan. Bila seorang ‘Batin’ melanggar suatu aturan adat atau tidak lagi mendapatkan kepercayaan warganya, ia dapat diturunkan dari jabatannya atas kesepakatan bersama masyarakatnya. Orang lain dipilih untuk menggantikannya. Seorang ‘Batin’ tidak imbalan apa pun untuk menjalankan fungsinya. Satu-satunya keuntungan yang berhak didapatkannya adalah sumbangan tenaga kerja sehari dari semua lelaki di dalam kelompoknya pada waktu ‘Batin’ itu hendak membuka hutan untuk ladang.

Orang Gunung tidak tinggal mengelompok di dalam sebuah desa. Biasanya, keluarga-keluarga Orang Gunung tinggal tersebar di hutan-hutan di wilayah mereka. Tempat tinggal itu berpindah-pindah dari tahun ke tahun sesuai dengan berpindah-pindahnya ladang-ladang pertanian mereka.

Untuk bertani, mereka memilih tempat yang dianggap subur di hutan. Lalu, mereka menebang pohon-pohon besar di daerah yang dipilih; ranting serta cabang yang lebih kecil digunakan untuk memagari lahan itu. Lahan yang sudah dibersihkan dari pepohonan besar itu kemudian dibakar. Bibit-bibit tanaman ditanam di tanah yang kini sudah siap. Lahan pertanian seperti ini disebut ladang. Pemilik ladang membangun rumahnya di ladang itu. Kegiatan membuka hutan dan menyiapkan ladang kadang-kadang dilakukan secara bergotong-royong dengan beberapa keluarga lain.

Permukiman Orang Gunung yang agak mirip dengan desa terdapat di Dshuwok (di dekat Kutto-Waringin—permukiman yang didirikan oleh Depally (Depati) Barin di Depa, di dekat Sungie Marawang. Yang juga mirip dengan desa adalah permukiman kecil yang terdapat di antara benteng di Pangkal Penang dan Juak. Permukiman ini terdapat di wilayah Batin Marawang. Kelompok masyarakat di Sungie Bulu, Jebus dan Klabbet cenderung lebih mempertahankan gaya hidup yang tradisional dibandingkan dengan masyarakat di daerah lain.

Nasi adalah makanan pokok utama Orang Gunung, walau jagung, ketela dan ubi telah diperkenalkan oleh orang Cina dan Melayu dari Palembang. Tanaman-tanaman baru itu tumbuh subur di tanah Banka yang subur. Ubi manis (convolvulus batata) ditanam di ladang setelah panen padi. Tanaman ini lebih sering menjadi komoditi pertukaran untuk mendapatkan barang-barang dari para pedagang Cina daripada untuk dimakan sendiri.

Pepohonan buah yang paling sering ditemukan di tempat jarang ada di lingkungan Orang Gunung, kecuali yang sengaja telah ditanam di dekat permukiman. Masih banyak Orang Gunung yang tidak mengetahui cara membuka batok kelapa untuk mendapatkan airnya. Satu-satunya pohon buah yang sering tampak di dekat ladang-ladang mereka—dan juga tumbuh liar di dalam hutan—adalah pohon cempedak. Pohon yang tumbuh besar dan tinggi itu seringkali ditanam sebagai pusaka untuk anak-keturunan pemilik ladang itu, dengan harapan bahwa di suatu saat di masa depan, para anak-cucu akan membuka ladang dan menemukan pepohonan cempedak yang telah ditanam oleh nenek-moyangnya.

Penduduk Banka memiliki banyak sifat baik. Pencurian dan perampokan hampir tak dikenal sama sekali oleh kelompok-kelompok masyarakat yang tinggal di sebelah utara pulau (BLINJU). Perjudian, mabuk-mabukan, perselingkuhan dan kejahatan-kejahatan serupa juga hampir tak diketemukan. Barangkali, kecilnya komuniti masyarakat itu, keterpencilan tempat tinggal dan kemiskinan kehidupan membuat mereka tidak tertarik atau pun mampu untuk berjudi atau pun bermabuk-mabukan.

Orang Laut
PADA tahun 1803, Sultan Mahmud Badoor-Udin (yang kedua) menggantikan ayahandanya di tahta Kesultanan Palembang. Di Banka, suasana terasa tenang dan aman. Akan tetapi hal ini tidak terjadi karena upaya sultan baru itu karena menurut penduduk, sultan baru itu justeru lebih tidak peduli pada nasib Banka daripada sultan yang digantikannya.

Pertanyaan-pertanyaan Horsfield mengenai rentetan malapetaka yang melanda Banka dijawab dengan sederhana oleh penduduk Banka: efek fatal penyakit cacar, kematian penduduk di belantara karena kelaparan, nasib orang-orang yang terpaksa menyerahkan diri sebagai budak untuk menghindari bahaya kelaparan serta kekejaman-kekejaman orang Lanon. Kesederhanaan jawaban-jawaban itu memberikan keyakinan akan kejujurannya.

Ketika menceritakan kegiatannya membangun benteng pertahanan di Mampang, Seorang lelaki yang amat dihormati di lingkungannya, Demang Satjo Truni, menceritakan bahwa setiap daun yang gugur, setiap ranting yang patah membangunkannya setiap malam. Kepada Horsfield, ia menambahkan bahwa setelah Banka menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Inggris, ia dapat tidur lelap karena merasa tenang. Hal yang sama didengarnya dari orang lainnya, warga Banka yang berbangsa Melayu, Cina maupun penduduk asli.

Barangkali sikap penduduk menerima kehadiran orang Inggris di Banka dapat dimengerti mengingat bahwa sultan-sultan Palembang selama ini lebih banyak menunjukkan sikap tidak peduli terhadap duka-lara kehidupan di Banka. Pergantian kekuasaan dari Palembang ke Inggris disambut baik (setidaknya, itu yang disampaikan kepada Horsfield). Para pekerja tambang yang seringkali ditindas oleh pengawas-pengawas pertambangan dari Palembang tampaknya meyakini sikap netral dan adil penguasa-penguasa baru dari Inggris. Pun, dengan kehadiran pemerintahan Inggris, mereka tidak lagi disergap di ladang dan dibegal atau diculik oleh para perompak. Orang Inggris merencanakan untuk membuka kembali pertambangan-pertambangan di daerah-daerah selatan pulau. Banyak orang yang tadinya mengungsi ke tempat yang dianggap lebih aman, kembali atau menunggu saat untuk pindah lagi ke daerah asalnya. Pada bulan April 1812, bendera Inggris dikibarkan di Pulau Banka. Sejak saat itu, segala hak Sultan Palembang atas Banka diserahkan kepada Inggris.

Di Pulau Banka, penduduk pendatang adalah orang Cina dan orang Melayu. Yang datang lebih dulu adalah kelompok masyarakat yang tinggal di gunung dan kelompok masyarakat yang tinggal di laut. Banyak masyarakat yang tinggal dan hidup di atas laut. Hal ini juga tampak di berbagai daerah di India. Di banyak tempat, membuat permukiman di atas laut merupakan keharusan (misalnya, oleh kendala lingkungan alam). Orang Rayad di Pulau Banka dan di perairan sekitarnya memilih untuk tinggal di atas laut. Oleh orang Melayu—yang memiliki kehidupan yang lain sama sekali—mereka dinamakan ‘orang laut’.

Berapa luas persebaran orang laut di Samudera Hindia tidak diketahui oleh Horsfield. Kemungkinan besar permukiman dan masyarakat orang laut tersebar di seluruh wilayah yang berbahasa Melayu. Ketika tulisan ini diterbitkan, orang laut terutama terdapat di daerah Linga, Rhio dan pulau-pulau di sekitar kedua daerah ini. Sejak dahulu, orang laut menjadi bagian dari rakyat sultan-sultan Melayu ketika mereka berjaya di Malakka dan kemudian, juga di Johor.

Orang Rayad, yang mempertahankan tradisinya, tinggal di perahu-perahu kecil bersama seluruh keluarga dan segala harta-benda mereka. Di kalangan orang Melayu, perahu-perahu seperti itu dinamakan ‘Prow Kakap’ karena bentuk dan geraknya di laut dianggap mirip dengan ikan kakap. Perahu-perahu itu dapat digunakan dengan dayung maupun dengan layar. Pembagian ruang di atas perahu-perahu itu kira-kira serupa: bagian buritan digunakan sebagai dapur dengan sebuah kompor. Bagian tengah digunakan untuk kegiatan di siang hari dan untuk beristirahat di malam hari. Perabotan di ruang tengah ini terdiri dari beberapa lembar tikar yang siang hari, biasanya disimpan dengan menggulungnya. Selain itu, biasanya juga ada sebuah peti kecil untuk menyimpan benda-benda berharga. Pada malam hari dan ketika cuaca buruk, perahu itu ditutupi dengan sebuah tikar kajang. Bila tidak digunakan, tikar ini pun disampirkan di bagian buritan perahu.

Perlengkapan perahu itu sederhana saja: sebuah harpoon dan sebuah alat serupa tombak untuk mencari kepiting di pasir, beberapa buah batok kelapa dan dayung-dayung ukurannya sesuai dengan perahu itu. Selain itu juga tersedia gentong. Tak ketinggalan: seekor kucing kesayangan. Beberapa buah tombak kayu—alat pembela diri yang paling disukai—siap di tempat-tempat strategis. Orang laut sangat handal menggunakan tombak-tombak itu. Perahu-perahu besar (yang tampaknya biasa digunakan untuk tujuan perang atau penyerangan) dilengkapi dengan ‘rantakka’ (senjata api kecil), senjata-senjata api lainnya, aneka tombak dan pedang-pedang Melayu.#

Pustaka Acuan:
Thomas Horsfield, M.D. “Report on the Island of Banka,” dalam The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Vol. 2. Tempat-tahun (hal. 299 – ..) 

Singkap!

Thomas Horsfield dan Pulau Bangka

Dalam ceramahnya di Batavian society of arts and sciences pada bulan sept 1815, Sir TS Raffles mengacu pada sebuah laporan mengenai Pulau Bangka yang ditulis oleh Dr. Horsfield.

LAPORAN ini menarik perhatian karena mengungkapkan adanya hubungan geologis yang erat di antara Pulau Bangka dan Semenanjung Melayu bagian tenggara. Pada kesempatan itu, Raffles menyatakan berharap bahwa laporan itu dapat diterbitkan secepatnya dengan dukungan dari East India Company.

Akan tetapi, puluhan tahun kemudian, ketika redaksi Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia mencari laporan itu, mereka tak menemukannya. Tidak di Inggris; tak juga di Batavia dalam bahasa Inggris atau pun Belanda. Akhirnya, Kolonel Butterworth, Gubernur Inggris di Semenanjung Melayu membantu dengan menanyakan hal itu ke India Office di Inggris. Beberapa bulan kemudian, redaksi majalah ini berhasil memiliki naskah asli laporan Dr. Horsfield beserta memorandum lampiran yang ditulisnya sebagai pengantar laporan.

Dalam Memorandum yang ditulisnya pada tanggal 5 Agustus 1847, Dr. Horsfield menjelaskan beberapa hal. Ia mulai bekerja sebagai naturalis untuk East India Company pada tahun 1812. Ia memanggul tugas meneliti propinsi-propinsi di bagian barat Pulau Jawa. Pada tahun yang sama, Thomas Stamford Raffles, Letnan-Gubernur Inggris di Indonesia menugaskan Horsfield dan dua orang lainnya untuk meneliti sebuah pulau yang baru saja diserahkan kepada Inggris. Pulau itu adalah Pulau Banka.

Tak lama setelah tiba di Pulau Banka, kedua mitra kerja Horsfield jatuh sakit dan kembali ke Batavia. Horsfield terpaksa meneliti sendirian saja. Selama sembilan bulan, ia mengelilingi pulau itu, memeriksa berbagai tambang timah dan mengumpulkan bahan untuk laporan yang harus ditulisnya. Ia juga berniat membuat peta Pulau Banka.

Pada tahun 1814, Horsfield menyampaikan laporan sementara yang telah ditulisnya kepada Raffles. Bahan dari laporan sementara inilah yang diungkapkan oleh Raffles dalam ceramahnya di Batavia Literary Society. Oleh tuntutan tugas-tugas lain, Horsfield tidak langsung dapat menyelesaikan penulisan laporan itu.

Hampir 30 tahun kemudian, ia mengirimkan tulisannya kepada redaksi Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Horsfield menambahkan catatan bahwa dalam waktu 30 tahun itu, tentunya sudah banyak sekali yang berubah di Pulau Banka dan sudah banyak pula tulisan yang muncul dari tangan peneliti-peneliti Belanda.

Memang betul, setelah Horsfield, banyak tulisan yang terbit mengenai Banka. Akan tetapi, tulisan Horsfield ternyata berisikan gambaran paling lengkap mengenai kandungan mineral Pulau Banka dibandingkan dengan tulisan-tulisan lain yang diterbitkan di masa itu. Horsfield memberikan gambaran mengenai tambang-tambang timah Banka ketika pulau itu masih dikuasai Inggris. Tulisan Horsfield juga berisi catatan kesejarahan Banka yang paling lengkap di pertengahan abad ke-19. Sebelum menerima laporan Horsfield, redaksi Journal telah menerjemahkan tulisan tentang Banka dari Tijdschrift voor Nederlands-Indiƫ dan mereka telah juga menerima artikel Dr Epp (yang ditulis dalam bahasa Jerman). Kedua tulisan itu disertakan sebagai kutipan-kutipan untuk melengkapi laporan Horsfield yang diterbitkan di jurnal ini.

Dalam Kata Pengantar untuk Laporan Mengenai Banka, Horsfield menyajikan catatan-catatan sejarah yang datanya dikumpulkan dari beberapa wawancara mengenai situasi di Pulau Banka: geografi, pertambangan dan masyarakatnya. Horsfield sendiri menyatakan bahwa catatan-catatan itu tidak sepenuhnya otentik karena bersandar pada ingatan serta kejujuran orang-orang yang diwawancarainya, yaitu berbagai warga kota Palembang dan Minto (Muntok). Namun, perlu diingat bahwa orang-orang yang diwawancarainya merupakan warga-warga terhormat di Palembang dan Minto yang dianggap tahu banyak mengenai sejarah serta budaya masyarakat dan daerah masing-masing. Data dari wawancara-wawancara itu seterusnya dilengkapi pula dengan catatan sejarah yang lebih dapat dipertanggungjawabkan

Di awal abad ke-18, Pulau Banka diserbu oleh seorang pangeran dari Palembang. Pertikaian dan perebutan kekuasaan di antara pangeran itu dan seorang pangeran lainnya pun mengambil tempat di pulau itu. Terjadinya berbagai bencana alam sesudahnya hampir saja menghancurkan seluruh pulau. Rentang waktu di antara tahun 1760-1780 merupakan masa yang tenang bagi Banka dan masyarakatnya mengalami periode yang makmur dan tenteram.

Ditemukannya timah di Banka mengundang kedatangan orang-orang asing, terutama orang Cina, yang tidak hanya bekerja di tambang-tambang itu, tetapi juga memperkenalkan pertanian dan perdagangan kepada penduduk setempat. Hutan-hutan mulai dibuka dan dibersihkan untuk membuat permukiman yang permanen. Di masa ini, hasil tahunan timah dari Pulau Banka dapat diperbandingkan dengan hasil tahunan pertambangan di seluruh Mexico.

Nama ‘Banka’ digunakan di beberapa daerah yang di sekitar dan di dekat bagian selatan Pulau Sumatera. ‘Banka, Plembang’ digunakan untuk mengacu pada kerajaan atau kesultanan Palembang di pantai timur Sumatera—yang terbentang ke barat sampai ke Banka-Ulu. Di kemudian hari, nama Banka-Ulu akhirnya menjadi Bankulen (Bengkulu). Selain itu, juga ada nama Banka-Musso yang digunakan untuk mengacu pada pulau yang terdapat di Selat Banka.

Selama dua abad pertama setelah kedatangan orang Eropa di India, tak ada yang tertarik melirik Pulau Banka. Pada waktu itu, di daratan Sumatera, orang-orang Barat itu sudah mendirikan gudang-gudang perdagangan di beberapa tempat: Jambi, Aceh, Palembang, Bangka-Ulu dan Padang. Pulau Banka hanya dikenal sebagai pulau yang tertutup oleh hutan belantara.

Sejarah permukiman Belanda di berbagai daerah di Sumatera dicatat dengan seksama oleh sejarahwan Valentyn. Nama-nama para residen dan agen-agen perdagangan mereka terdaftar mulai dari tahun 1616 di Jambi dan 1620 di Palembang. Yang di Jambi ditutup di pertengahan abad ke-18; sementara yang di Palembang masih terus bergiat sampai Inggris mengambil alih kekuasaan Belanda di Pulau Jawa dan daerah-daerah lain di nusantara.

Menurut Valentyn, komoditi yang menarik perhatian dan membuat Belanda datang ke Sumatera adalah: emas, lada, kapur barus, minyak kapur barus, benzoin (kemenyan), kayu sapan, kulit penyu, batu amber, getah jerang dan rotan. Timah merupakan komoditi yang ketika itu diduga hanya dihasilkan di Malakka saja.

Pada waktu ini, komoditi yang dihasilkan Banka adalah kayu hitam (ebony), kayu embaloo, lilin lebah dan madu, serta damar hitam dan putih. Penduduk Banka menyerahkan hasil-hasil hutan di atas kepada penguasa daerahnya sebagai upeti dan tanda setia. Tambang-tambang timah yang akhirnya membuat Banka tersohor baru diketemukan di awal abad ke-18.

Tak ada catatan sejarah Pulau Banka dari tangan penduduknya ketika Horsfield tiba. Yang ada hanyalah cerita-cerita bahwa dahulu kala, pulau itu berada di bawah kekuasaan Jawa. Orang masih dapat menunjukkan tempat-tempat tinggal para pembesar dari Jawa yang cenderung tinggal di pantai Barat. Permukiman utama terdapat di Kuttowaringin dan di sekitar muara Sungai Mendu, Selan dan Banko-Kutto. Di sinilah tempat tinggal perwakilan raja Jawa itu. Orang yang terakhir menduduki jabatan itu bernama Depatty Nusantara.


Pustaka Acuan:

Thomas Horsfield, M.D. “Report on the Island of Banka,” dalam The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Vol. 2. Tempat-tahun (hal. 299 – ..)
Singkap!

Pulau Bangka "Lima Abad Sepintas Lalu"

Asal-usul penduduk Banka terekam di dalam naskah-naskah kesejarahan di Jawa. Namun demikan, tak ada kejelasan mengenai bagaimana caranya orang dari Palembang dapat berkuasa di Banka.
APAKAH Pulau Banka pernah diserahkan kepada penguasa-penguasa di Kesultanan Palembang di masa ketika raja-raja Jawa dan raja-raja Palembang berhubungan dan bekerjasama? Ataukah, penduduk pulau itu—atas kemauan sendiri—mengakui kekuasaan raja-raja Palembang untuk mendapatkan perlindungan? Kemungkinan besar, bagian-bagian paling barat Banka terpengaruh besar oleh Palembang ketika daerah-daerah itu sebetulnya masih dikuasai oleh perwakilan raja-raja Jawa.

Adanya saling-keterkaitan di masa lalu di antara kerajaan di Palembang dan raja-raja di Pulau Jawa terbukti oleh naskah-naskah di Jawa dan di Palembang. Adanya kemiripan bahasa di kedua tempat itu merupakan salah satu bukti kuat tentang keberadaan hubungan saling-terkait itu. Bahasa yang digunakan oleh kelas-kelas menengah dan atas di Palembang dan sekitarnya menunjukkan kesamaan-kesamaan khas bahasa sumbernya, yaitu bahasa yang digunakan di daerah Jawa tengah.

Sejarah Jawa mencatat bahwa raja Madjapahit yang pertama, Browidjoyo Ongkowidjoyo, menganugerahkan kerajaan Palembang kepada anaknya, Ariyo Dammar. Pada waktu itu, Palembang sudah berada di bawah kekuasaannya. Pada tahun 1300, Ariyo Dammar berangkat ke Palembang. Ia diiringi oleh sejumlah besar pendukung dan pengiring. Mereka inilah yang menjadi koloni tetap pertama di sana.

Penelitian Horsfield mengenai turun-temurun raja-raja Palembang menghasilkan silsilah yang merangkum 248 tahun. Silsilah itu rupanya masih menyisakan banyak pertanyaan. Sebagian pangeran di dalam silsilah itu merupakan keturunan Ariyo Dammar, cikal-bakal koloni Jawa di Palembang; sebagian lagi merupakan keturunan Mulana Ibrahim, yang berasal dari Arab. Mulana Ibrahim-lah yang menyebarkan agama Islam di Jawa, Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya.

Menjelang akhir abad ke-16, kerajaan di Palembang berkali-kali diserang oleh orang dari daerah Lampung. Menurut Valentyn, dengan bantuan Kesultanan Banten, sebagian wilayah di batas selatan berhasil dikuasai Lampung, walau ini tidak berlangsung lama. Selebihnya, karena sedikitnya sumber sejarah yang tersedia, Horsfield tidak memberikan uraian lebih lanjut mengenai Palembang abad ke-17. Yang jelas, pada tahun 1660 kota Palembang habis diberangus oleh Belanda.

Di awal abad ke-18, terjadi peristiwa-peristiwa yang langsung berhubungan dengan Pulau Banka. Keresahan kemasyarakatan sekitar tahun 1720 di Palembang berakhir dengan penobatan sultan yang keturunannya masih bertahta ketika Horsfield datang meneliti di kota itu. Keresahan itu berhasil diredam berkat bantuan Belanda. Horsfield sendiri menyangsikan adanya dokumen-dokumen yang merekam revolusi itu. Ia sendiri menguraikan peristiwa itu berdasarkan cerita yang diwariskan turun-temurun oleh penduduk Palembang.

Ketika Susunan Ratu (Susuhunan Ratu) yang bernama Tshandi-Walang meninggal dunia pada tahun 1710, kerajaan di Palembang diwariskan kepada dua orang anaknya. Anak pertama, Mahomud Mongsour, tinggal di Kebon-Gede, suatu daerah yang terletak agak di luar kota. Adiknya, Sultan Kama-Rudin (yang menyandang gelar Sultan Agong) tinggal di kota Palembang. Tempat tinggal Sultan Agong dikenal juga dengan nama Plembang Lama.

Sebelum Sultan Muhamad Mongsour meninggal dunia, ia menyerahkan tahtanya kepada anak lelakinya yang sulung. Sultan yang baru itu bergelar Sultan Anom. Tak lama kemudian, terjadi kericuhan dan pertikaian di dalam keluarga ini yang meledak sehingga terjadi perpecahan keluarga.

Adik Sultan Anom yang bernama Raden Lambu merupakan lelaki pegiat yang gemar bertualang. Ia meninggalkan Palembang untuk mengunjungi negeri-negeri Johor, Tringano (Trengganu) dan Siam. Di Siantan, ia menikah dan kemudian mendirikan Minto (Muntok) sebagai permukiman untuk kerabat-kerabat isterinya. Tak lama kemudian, ia kembali ke Palembang untuk melaksanakan hal-hal yang diperlukan untuk menguasai kerajaan di kota itu.

Sultan Agong—pamannya—tidak memiliki anak lelaki. Untuk dapat menggantikan kedudukannya sebagai sultan, Raden Lambu sebetulnya harus mengawini anak perempuan Sultan Agong. Akan tetapi, anak perempuan itu telah menikah dengan seorang lelaki yang bernama Pangeran Djaja. Entah bagaimana caranya, Raden Lambu berhasil menceraikan kedua suami-isteri itu dan berhasil pula menikahi anak perempuan Sultan Agong. Ketika Sang Sultan meninggal dunia, Raden Lambu—menantunya–dinobatkan sebagai Sultan Agong. Dengan demikian, ia menguasai separuh kekuasaan dari Kesultanan Palembang yang terbagi dua itu.

Kini, hasutan dan intrik disebar dan menyirap persaingan di antara pangeran di Plembang Lama dan kakaknya—sultan baru–yang berkuasa di Kebon-Gede. Pertikaian itu semakin memanas oleh ikut campurnya Belanda yang didekati oleh Sultan Agong.

Beberapa kapal dan pasukan diberangkatkan dari Batavia sebagai bala bantuan. Sultan Agong menerapkan berbagai strategi untuk menghambat keamanan dan pertahanan Sultan Setelah suatu kunjungan silaturahmi biasa, Sultan Anom tiba-tiba dikejutkan oleh tembakan-tembakan dari kapal-kapal yang berlabuh di tengah-tengah Sungai Musi. Ia pun mendapatkan serangan dari darat. Mau tak-mau, Sultan Anom terpaksa meninggalkan istananya untuk menyelamatkan diri.

Awalnya, Sultan Anom pindah ke Jambi. Tak lama kemudian, ia pindah ke Banka. Bersama dengan pendukung-pendukungnya, selama 10 tahun berturut-turut, ia menentang kakaknya. Horsfield menduga adanya kemungkinan bahwa Sultan Anom akan terus berusaha merebut kembali kekuasaannya seandainya ia tidak diusir oleh suatu ekspedisi dari Batavia. Ekspedisi itu sendiri berakhir pada tahun 1732.

Oleh kedatangan ekspedisi militer Belanda dan revolusi yang terjadi, Raden Lambu–(adik Sultan Anom) dan menantu yang mewarisi tahta Sultan Agong—kini berhasil merebut kekuasaan penuh atas keseluruhan Kesultanan Palembang. Ia mulai menjalankan kekuasaannya pada tahun 1722 dan menyandang gelar Sultan Mahmud Badar Udin.

Sultan Mahmud Badar Udin (yang dulunya dikenal sebagai Raden Lambu dan kemudian sebentar, sebagai Sultan Agong, menandatangani kontrak kerjasama dengan komisioner Belanda yang datang dari Batavia. Di dalam kontrak itu, Sang Sultan berjanji akan menjual komoditi dan hasil produksi dari Palembang dan Banka kepada VOC dengan harga tertentu yang telah ditetapkan. Kontrak kerjasama itu disahkan di Batavia di tahun berikutnya. Nama kedua penandatangan kontrak kerjasama itu, Abraham Patras dan William Daums (komandan ekspedisi militer yang menaklukkan Sultan Anom di Kebon Gede), masih dikenal oleh orang di Palembang, ketika Horsfield di sana.

Uraian ini juga ditegaskan oleh Valentyn yang baru saja kembali ke Eropa ketika peristiwa ini terjadi. Seseorang di Batavia menyampaikan kepadanya bahwa ekspedisi militer VOC yang berangkat dari Batavia terdiri dari 6 buah kapal perang dan 400-500 anggota pasukan. Ekspedisi militer itu konon diberangkatkan untuk menyelesaikan pertikaian-pertikaian di antara keluarga kesultanan.

Walau Raden Lambu (Sultan Mahmud Badar Udin) telah memegang tampuk kepemimpinan di Palembang, Sultan Anom tidak melepas ambisinya. Setelah pindah ke Banka, ia mengumpulkan pendukung-pendukung dari Palembang. Selain itu, ia juga didukung oleh sejumlah besar orang Bugis yang ada di Pulau Banka. Terkecuali permukiman di Minto (Muntok), seluruh Pulau Banka kini dikuasai oleh Sultan Anom dan para pendukungnya.

Di Banka, orang Bugis membuat permukiman di ujung barat semenanjung Tanjong Ular. Dari tempat ini, dengan perahu-perahu yang jumlahnya tak terhitung, mereka menguasai pesisir utara Pulau Banka. Di Koba, Sultan Anom mendirikan benteng untuk menguasai pesisir timur. Anaknya, Raden Klip, berkuasa di Paku—yang terletak di pedalaman pulau. Ia juga menguasai daerah pesisir yang terbentang di antara Banko-Kutto sampai ke Tubuali. Perincian ini tercatat dalam laporan ekspedisi yang dikirimkan dari Batavia pada tahun 1732 kepada Sultan Ratu (nama inilah yang digunakan oleh pejabat-pejabat Belanda di Batavia untuk mengacu pada Mahmud Badar Udin).

Laporan mengenai ekspedisi itu memberikan gambaran mengenai Pulau Banka pada masa ini. Penduduk Banka terpisah-pisah ke dalam beberapa suku yang masing-masing dipimpin seorang kepala. Ketika Horsfield meneliti, keadaan ini belum berubah. Suku-suku itu tidak dipersatukan oleh satu orang atau satu lembaga. Sultan yang baru tidak banyak berpengaruh di Banka. Sebagian besar penduduk lebih menyukai Sultan Anom yang terasing di pulau mereka.

Pustaka Acuan: Thomas Horsfield, M.D. “Report on the Island of Banka,” dalam The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Vol. 2. Tempat-tahun (hal. 299 – ..)
Singkap!

ATURAN PERILAKU SUKU LOM

Sosialisasi dan Komunikasi Terselubung
Lom mempertimbangkan untuk mengunjungi orang lain sebagai tindakan sosial dan dalam hal ini mereka tidak berbeda dengan orang Melayu dan Indonesia lainnya pada umumnya. Keramahan orang Melayu sebagai pepatah dan preskriptif dan dalam hal ini Lom tidak berbeda dari mereka. Lom tidak bergantung pada undangan untuk bersosialisasi dan mereka tidak diharuskan dan juga diharapkan memiliki 'bisnis' untuk didiskusikan saat mengunjungi satu sama lain. Menahan diri dari menerima-tersenyum-pengunjung tak diundang dan menawari mereka kopi (atau, pada waktu makan, makanan) tidak sopan (kasar) seperti juga, dalam beberapa kasus, menolak tawaran tersebut. Tapi, untuk berkeliaran di permukiman yang diberi makan, seperti beberapa individu lainnya, bahkan lebih kasar lagi.
Lom membedakan secara linguistik antara sosialisasi umum, mengunjungi sesepuh/rumah tangga lain dan kunjungan yang dilakukan oleh pemuda hingga wanita muda (atau sebaliknya). Kata umum untuk kunjungan adalah mampƩr, meski istilah main-main dan berayau juga bisa digunakan. Lom jarang saling membalas panggilan sosial pada pagi hari. Pintu-pintu rumah ditutup; penduduk desa ada di ladang, kebun atau kebun mereka; memanfaatkan jam pertama yang relatif dingin hari ini. Kebanyakan orang kembali ke rumah mereka untuk makan siang di sore hari, bagaimanapun, dan sejak saat itu bisa saja untuk pergi berkunjung meskipun kebanyakan sosialisasi antar rumah tangga dimulai setelah matahari terbenam. Para pria dan wanita muda berjalan pelan-pelan dalam kegelapan dalam kelompok kecil yang terpisah dan memanggil penghuni rumah untuk mengetahui apakah penduduknya sedang tidur; Jika mereka bukan pengunjung masuk dan tinggal selama beberapa menit atau beberapa jam, seperti kasusnya mungkin. Laki-laki dewasa cenderung bersosialisasi secara tunggal, sedangkan wanita dewasa dengan anak kecil jarang meninggalkan rumah mereka setelah gelap. Biasanya, tamu dan tuan rumah duduk atau berbaring di ruang depan ambƩn (bangku serbaguna) dan tempatkan tembakau dan buah pinang di depannya, saling menawarkan rokok. Tuan rumah mungkin menawarkan kopi atau teh atau kadang arak, tergantung situasinya.

Bagi orang muda, biasanya yang belum kawin untuk mengunjungi rumah lain (biasanya sanak keluarga yang lebih tua) di lokasi lain dan bermalam. Selama kunjungan tersebut, informasi dipertukarkan, dan yang terpenting, anggota generasi muda memiliki kesempatan untuk bertanya kepada orang tua mereka tentang arti dari sesuatu yang didengar dan mempelajari berbagai aspek Adat Mapur. Saya harus menekankan bahwa di antara suku Lom tidak ada guru adat. Mengenai kejadian ritual seperti kelahiran, pemakaman, dll, orang hanya "belajar dengan melihat", dan peraturan tentang perilaku sehari-hari mereka pelajari dari keluarga tua seperti yang baru saja disebutkan.

Dulu, sehubungan dengan bentuk kunjungan ini, kebiasaannya adalah membawa kopi dan gula, atau beras, sebagai hadiah ke rumah tangga tempat seseorang datang sebagai tamu. Kebiasaan ini telah sedikit terkikis dan orang muda saat ini jarang membawa paman dan bibi mereka, atau kakek nenek, makanan saat mereka beram(b)ak. Hal ini dianggap bukan sebagai kesalahan generasi muda, tapi dari orang tua mereka, yang tidak lagi menginstruksikan anak-anak mereka dalam tradisi yang dihormati waktu itu. Orang tua zaman sekarang ingat betul bahwa mereka disuruh membawa sesuatu kapan pun mereka berangkat mengunjungi kerabat.

Bagi seorang bujangan (atau wanita muda yang belum menikah) untuk mengunjungi rumah seseorang dengan maksud untuk bertemu dengan individu lawan jenis, lagi-lagi merupakan kategori yang berbeda. Ini disebut ngelagak. Perbedaan antara dua mode kunjungan yang ditunjukkan kepada saya adalah saat Anda menjawab ucapan rutin seseorang "ke mana Anda pergi?" Anda mungkin sangat baik mengatakan bahwa Anda sedang pergi beram(b)ak, tapi bukan berarti Anda berencana untuk ngelagak. Kunjungan semacam itu dilakukan agar bisa melihat orang lain ("seperti apa penampilannya, apakah dia membuat barang bagus, bisakah dia memasak?") dan cenderung singkat; tujuan dari pertemuan ini bukanlah untuk terlibat dalam percakapan panjang dengan siapa pun yang telah datang untuk bertemu, tapi untuk melihat dan, jika seseorang senang dan terdorong (jika kita menyetujui hati, 'jika hati / hati kita setuju'), kurang lebih diam-diam membuat janji untuk bertemu lagi pada hari berikutnya.

Setidaknya ada dua cara di mana prilaku semacam itu bisa disarankan dan diatur. Salah satu metode, yang rupanya sebelumnya banyak digunakan namun hampir tidak dikenal oleh kaum muda saat ini adalah menggunakan apa yang disebut sirih masak. Sirih masak (sirih masak yang matang ', tapi di sini harus dipahami sebagai perpanjangan dari arti yang lain:' siapkan sirih ', yaitu benda-benda alami yang berubah melalui keterlibatan manusia) lagi-lagi harus dibedakan dari omongan sinis, atau 'teka-teki', terjemahan yang tepat yang mungkin 'ucapan metaforis'.

Sirih masak melibatkan alat dan manipulasi parsial benda material kecil seperti kacang pinang, jeruk nipis, gambir, tembakau, beras dan gabah, benang, helai rambut, dll. Untuk mempelajari hal itu dengan baik memerlukan instruksi yang panjang (setidaknya satu tahun, itu disarankan untuk saya). Gagasan umum tentang sirih masak adalah satu orang dapat mengirim yang lain -seringkali melalui perantara yang terpercaya- sebuah pesan. Pesan ini terkandung dalam paket kecil yang cukup kecil untuk diselipkan ke tangan penerima, tidak terdeteksi oleh orang lain. Saya diberikan contoh berikut tentang bagaimana hal ini benar-benar dilakukan: Seorang pemuda mengirim (yaitu mempercayai seorang teman untuk dibawa) seorang gadis sebuah paket kecil yang berisi seutas tali dengan simpul di dalamnya. Simpul itu menandakan bahwa pemuda tersebut memiliki perasaan mesra terhadap wanita muda tersebut. Jika dia ingin bertemu dengannya, dia mengikat simpul lain dalam tali itu dan membiarkan tali masuk kembali membawa tali ke pengirimnya.

Saya yakin bahwa sirih masak adalah kode yang tidak hanya dikenal oleh orang-orang Lom, namun oleh orang-orang Melayu di seluruh Bangka. Saya tidak menemukan referensi mengenai sistem informasi pra-literal ini dalam literatur yang ada tentang masyarakat Melayu dan oleh karena itu sangat disayangkan bahwa saya tidak memiliki kesempatan untuk memverifikasi informasi ini.

Sirih masak itu juga merupakan ciri dari masa lampau yang ditekankan saat dinyatakan bahwa ia hidup berdampingan dengan mahap, tabik, cuali't, dan omong sinir. Yang terakhir adalah 'kiasan metafora' yang disebutkan di atas (bentuk verbalnya adalah nyinyir). Salah satu contohnya: untuk menghindari pengunjung yang tidak diinginkan yang saat memanggil jika ada orang di rumah, seseorang memberi jawabannya - pada tengah hari - bahwa pintu telah ditutup untuk malam dan satu telah tertidur. Lebih tepatnya metaforis, bagaimanapun, adalah karakterisasi beberapa objek yang jauh dan tampaknya mal-apropos (baik secara positif maupun negatif), yang mengarahkan karakterisasi ke salah satu orang yang hadir namun menghindari referensi yang jelas dan memalukan (menghina) kepadanya. Sebagai contoh, seseorang dapat mengatakan tentang seekor anjing yang berjalan karena hal itu jelek atau buruk dan akan terserah siapa pun yang hadir (terutama tamu yang baru tiba) untuk menafsirkan pernyataan tersebut yang berkaitan dengannya. Atau, seorang pemuda yang mengunjungi sebuah rumah di mana seorang gadis muda hadir dapat menunjuk ke tanaman pisang di luar dengan mengatakan bahwa pastilah pisang itu manis; Ini akan diartikan sebagai pernyataan tentang minat yang sama. Dengan semua orang mengetahui hal ini, bagaimanapun, menjadi sulit untuk mengatakan sesuatu tentang apapun tanpa menjalankan risiko ditafsirkan karena mengatakan sesuatu yang ingin ditafsirkan; sulit untuk berbicara tanpa orang lain yang menyimpulkan makna atau opini yang tidak tersirat. Oleh karena itu, jika seseorang tidak ingin mengkarakterisasi pernyataan satu orang dengan seseorang, seseorang entah bagaimana harus memberi tanda bahwa ucapan seseorang tentang, katakanlah, anjing itu hanya berhubungan dengan anjing. Efek Lom ini dengan mengatakan baik mahap (maaf), tabik (tapi (?)), Atau cuali't (kecuali) (atau ketiganya sekaligus) sebelum mengucapkannya. (Sebuah rendition alternatif dari kata-kata yang digunakan adalah tabik, cuali't, ampun; kata terakhir berarti pengampunan atau pengampunan). Dengan cara ini orang lain tidak beralasan atau tidak sengaja dihina (atau tersanjung, seperti kasusnya). Jadi, untuk membuat penilaian yang cukup sederhana, Lom, yang peka terhadap konteksnya, harus menjelaskan bahwa hal itu tidak tersirat.



AGRIKULTUR/ PERTANIAN

Saya mengalihkan perhatian saya sekarang ke peraturan dan norma yang lebih terkait langsung dengan aspek metafisik Adat Mapur sebagaimana diuraikan dalam bab sebelumnya.

Saya telah memperhatikan bahwa tidak ada ladang di selatan Air Abik. Saya berpikir bahwa satu alasan mungkin karena angin yang berlaku adalah selatan atau selatan-timur dan bahwa saat membakar burung layang - yang harus dilakukan saat embun pagi telah menguap - desa itu sendiri mungkin terancam jika api tersebut terbukti sulit dilakukan. memeriksa. Namun, penjelasan yang saya berikan ada di tingkat yang lain: Sebuah keluarga telah membudidayakan orang-orang di daerah itu di masa lalu, namun seluruh keluarga jatuh sakit dan meninggal dunia setelah mengkonsumsi beras yang ditanam di sana. Penduduk desa sekarang mengenali tanah di seluruh wilayah karena sialan (tidak menyenangkan) sejauh menyangkut hasil pertanian yang dapat dimakan. Baik nasi, singkong, lada, maupun nanas bisa diproduksi di sana. (Namun, lahan yang tidak menguntungkan mempengaruhi non-edibles seperti pohon karet.)

Kematian bukanlah konsekuensi wajar untuk memakan makanan yang ditimbulkan oleh kekuatan malang ini. Jika orang-orang yang kena (terserang, menderita) menjadi sadar akan alasan penyakit mereka, mereka mungkin memanggil dukun untuk menyelidiki sebidang tanah. Setelah mendiagnosa masalah dia akan melanjutkan untuk mencoba pengobatan pasien. Tampaknya tidak mungkin dia bisa merawat tanah juga. Selama beberapa tahun rerumputan hutan di daerah yang sama bebas dari eksploitasi. Saat proyek itu memulai bahan bangunan untuk rumah-rumah yang dicari di sana.

Sebuah Ladang, katakanlah Lom, pasti berbentuk empat sisi tanpa gangguan (persegi atau persegi panjang). Sebuah sungai yang berbatasan dengan ladang tidak ada konsekuensinya, tapi jika melintasi medan diagonakan jahat akan mewujudkan dirinya dalam tanaman. Kekuatan ini tidak disebutkan atau terkait dengan makhluk gaib tertentu. Daerah yang dimaksud - miring ke arah bukit bukit yang rendah - dilapisi oleh sungai yang mengipasi, membuatnya hampir tidak mungkin untuk menemukan plot empat sisi yang tidak dipalsukan.

Prinsip yang harus dipatuhi pada brooks di ladang adalah 'satu saja dan jangan mutos lijok', sebaiknya 'sama nengah'. I.. .: satu sungai hanya diperbolehkan menyeberangi lapangan; lapangan mungkin tidak terbagi secara diagonal (masalah diagonal tidak, sepengetahuan saya terjadi di tempat lain dalam sistem simbolis mereka); dan yang terbaik adalah jika kedua bagian ini berukuran kira-kira sama. Kehadiran sungai itu sendiri sebenarnya dianggap sebagai keuntungan karena ia membuat tanah sejuk saat mantra panas dan memberikan kelembaban penting selama musim kemarau yang berlebihan atau berkepanjangan.

Saat pembersihan dimulai, perawatan dilakukan untuk memastikan bahwa pohon akan jatuh ke sungai. Jika aturan ini diabaikan, hal itu dapat menyebabkan kesehatan yang buruk dengan cara yang sama seperti ketika seekor belimbing membagi lapangan secara diagonal. Kita juga harus, jika bidangnya terletak di lereng, selalu bekerja dari bawah ke atas, untuk menghindari kemungkinan kemalangan.



MIMPI

Bertolak belakang dengan apa yang terjadi di antara sejumlah Orang Asli Semenanjung Malaysia (terutama Temiar; bandingkan tulisan-tulisan misalnya Kilton Stewart, Geoffrey Benjamin dan Iskandar Carey) Lom tidak sering membicarakan mimpinya. Mereka jauh dari 'budaya mimpi'. Ini bukan untuk mengatakan bahwa mimpi tidak memainkan peran apa pun. Tapi biasanya mimpi - sejauh mereka ditahan untuk menyampaikan 'kebenaran' - mengungkapkan jumlahnya; yaitu angka dari tiket pemenang undian yang akan datang di undian semi-ilegal setempat. Memang, banyak Lom tidak pernah membeli tiket kecuali mereka memiliki 'nomor mimpi' (mimpi nomor) terlebih dahulu. Mimpi juga harus diperhatikan saat seseorang berencana mengumpulkan kayu agila (garu atau tebek), resinous, Bahan wangi dikumpulkan di seluruh Asia. Lom mengumpulkannya terutama untuk mendapatkan uang tunai. Meskipun Lom telah 'selalu' menggunakan garu dalam ritual tertentu (yaitu saat belajar mantra dan saat pemakaman benar), pencarian garu baru saja menjadi penting secara ekonomi. Seseorang tidak dapat hanya berjalan ke hutan dan mengumpulkan zat ini seolah-olah itu adalah kayu bakar biasa. Dalam arti pohon-pohon yang mengandung zat terlindungi dan seseorang harus menafsirkan mimpi seseorang pada malam sebelum seseorang berencana untuk pergi berkumpul. Jika mimpi itu sama sekali tidak menyenangkan, pesannya adalah pengumpulan itu berbahaya. Kejadian yang melibatkan seorang gadis muda yang mengunjungi Air Abik ditafsirkan sebagai bukti ini: Dia telah hangus oleh petir lima hari sebelumnya saat dia menemani kakaknya mencari garu. Saudara laki-laki itu meninggal di tempat, hampir terpotong dua. Orang Tua Lom melihat kejadian ini sebagai peringatan bahwa kebiasaan lama ini tidak boleh dilalaikan.

Yang lebih penting dalam konteks sekarang, bagaimanapun, adalah mimpi yang dilaporkan jarang terjadi ditafsirkan membawa pesan tegas tentang hal-hal krusial, yaitu. pertanian, penyakit, dan lokasi hunian.

Sewaktu merencanakan dan menyiapkan lapangan seseorang, seseorang harus memperhatikan mimpi seseorang karena mengandung informasi penting bagi keberhasilan usaha produktif yang akan segera terjadi. Jika 'sesuatu' memasuki mimpi seseorang (jika ada barang dalam mimpi) seseorang meminta izin 'untuk' - lanjutkan, menurut Lom, berbagai tanda yang dipuji oleh mimpi. Ada kode (kode) disini, saya yakin. Seseorang mungkin, misalnya, bermimpi bahwa gigi seseorang longgar atau tanggal keluar; Ini adalah tanda negatif yang secara imperatif menandakan untuk tidak maju; untuk menghentikan aktivitas apa pun yang terlibat atau merencanakannya secara berbeda. Indikator negatif lainnya adalah rumah tak berpenghuni yang besar. Kedua hal ini berarti 'pertanian berpindah tidak diijinkan, pergi ke tempat lain' (tidak boleh berhuma - mau ke pola lain). Untuk memastikan bahwa seseorang dapat mempercayai tanda-tanda yang ditampilkan dalam mimpi seseorang sama sekali, bagaimanapun, penting agar seseorang menahan diri untuk tidak tidur di siang hari; tidak permanen, tapi selama tahap kritis, yaitu tahapan mimpi dianggap sekitar.

Namun pada siang hari, pertanyaan tentang mimpi seseorang harus diajukan. Lom bersikeras bahwa tidak ada prosedur khusus yang diperlukan untuk memastikan bahwa mereka ditanya dengan benar dan memang tidak diakui secara budaya atau tidak benar dengan cara mengajar untuk meminta mimpi seseorang tampak ada. Hanya jawaban - 'tanda' (tanda) dalam mimpi - ditafsirkan sesuai dengan kode budaya atau aturan interpretasi yang disosialisasikan. Selama malam berikutnya atau berikutnya, seseorang berharap bisa menerima jawaban atas pertanyaan seseorang; Ini bisa jadi tentang sesuatu yang sepele (seperti nomor lotere) atau lebih banyak hal penting seperti pindah dari atau bahkan merelokasi rumah seseorang karena gangguan ekstranormal seperti kunjungan hantu, iblis, atau pedarƩ.

Simbol mimpi yang bermuatan negatif seperti rumah kosong dan gigi longgar juga mungkin tampak tidak jelas, yaitu tanpa pertanyaan yang diajukan secara sadar, dalam hal ini mereka ditafsirkan sebagai berita buruk mengenai kesehatan anggota rumah tangga. Tidak ada Lom yang bisa menawarkan contoh simbol mimpi bermuatan positif yang bisa ditafsirkan sebagai ucapan silakan ('ke kanan') dan menurut satu individu simbol seperti itu tidak ada.

Kegiatan yang diatur oleh informasi mimpi adalah, katakanlah Lom, terbatas pada perencanaan dan persiapan tempat tinggal, kebun dan kebun binatang. Dengan demikian, satu-satunya lingkaran produktif yang menjadi impian mereka adalah pertanian. Dengan akun mereka sendiri, berburu dan memancing (baik di air tawar atau di laut) tetap tidak terpengaruh.

Pertanyaan penting yang timbul dari konsepsi mimpi dan penerapan Lom adalah apakah mereka memberikan wawasan yang relevan dengan salah satu keprihatinan saya selama penelitian lapangan, yaitu. mengapa Lom menjadi (atau, alternatifnya, tetap tinggal) Lom. Akan saya tinggalkan masalah ini yang belum dijelajahi di sini, dan kembali ke bab enam karena menghubungkan secara langsung, menurut saya, implikasi tertentu dari konsepsi Lom tentang pencarian produktif.
Singkap!

RABENG PERPAT PERMAI






























































Perkumpulan Perpat Permai awalnya merupakan kelompok pembudidaya ikan (POKDAKAN) yang kemudian berkembang menjadi perkumpulan Perpat Permai yang telah berakta notaris mulai Februari 2018. Perpat Permai yang terletak di kelurahan Air Jukung Kecamatan Belinyu kini berusaha untuk menjaga dan melestarikan kawasan hutan mangrove disekitar sungai perpat Belinyu.

Selain membudidaya kepiting bakau dan ikan bandeng, perkumpulan ini juga sedang berusaha membangun sebuah ekowisata mangrove yang diharapkan menjadi tempat wisata baru di Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka
Singkap!