The Origin Of Hakka (Case Study: Kampung Gedong in North Bangka)

The Origin Of Hakka


Kenapa disebut sebagai orang hakka atau khek-ren/khe-cia.. sebenarnya arti dari hakka itu sendiri adalah keluarga pendatang dimana hak = tamu/pendatang dan ka = keluarga.. Nah orang khek/hakka tergolong unik karena orang khek berbeda dengan suku-suku lain di china karena orang khek merupakan bangsa penjelajah dan tersebar di hampir seluruh dunia. orang khek juga di sebut unuk karena suku Hakka adalah termasuk orang tionghoa yang cepat mengadopsi ide-ide Barat dibanding dengan yang lain dan mengkombinasikannya dengan budaya Hakka. Rumah orang khek juga tergolong khas dan unik karena rumah tradisionalnya yang di sebut tulou berbentuk bunderan atau kadang juga ada yang berbentuk kotak yang berguna untuk melindungi diri dari suku lain (bangsa khek selalu dianggap pendatang bahkan di china sendiri). Biasanya bangsa khek hidup secara bersama-sama dalam tulou.

Bahasa Hakka (secara harafiah berarti “bahasa keluarga tamu”) atau di Indonesia umumnya dipanggil Khek adalah bahasa yang dituturkan oleh orang Hakka yang merupakan suku Han yang tersebar di kawasan pegunungan provinsi Guangdong, Fujian dan Guangxi di Tiongkok. Masing-masing daerah ini juga memiliki khas dialek Hakka yang agak berbeda tergantung provinsi dan juga bagian gunung sebelah mana mereka tinggal.

Penutur bahasa Hakka di Indonesia banyak terdapat di Aceh, Bangka-Belitung, Jawa, serta Kalimantan Barat. Paling khas untuk yang bermukim di Jawa dalam abad 20, banyak yang menjalankan perdagangan terutama barang kelontong. Pembuatan sepatu banyak dimulai oleh mereka, dari Jakarta kemudian diteruskan ke daerah Bandung.

Suku Hakka (khek) yang berada di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, merupakan salah satu cabang suku Han yang memiliki ciri khas dan penyebaran serta pengaruh paling luas di seluruh dunia. Di Cina sendiri, orang Hakka menyebar sampai ke provinsi-provinsi lebih jauh seperti Provinsi Sichuan, Chongqing dan Guangxi. Sedangkan diseluruh dunia, boleh dikatakan hampir dimerata tempat dapat ditemukan jejak orang Hakka.

Mulai pada masa pemerintahan Dinasti Song, penduduk di pusat Cina (utara) mulai melakukan transmigrasi secara besar-besaran ke daerah selatan. Mulai dari daerah Gàn Selatan, Mǐn Barat sampai Méizhōu, akhirnya membentuk suatu kelompok suku tersendiri, suku Kèjiā (secara harafiah berarti keluarga tamu). Kemudian orang Kèjiā (Hakka) memakai Méizhōu sebagai pusat, mulai menyebar lagi keseluruh wilayah Cina lainnya.

Daerah asal orang Hakka secara garis besar dapat dibagi menjadi empat daerah utama, yakni: Méizhōu, Gànzhōu, Tīngzhōu dan Hùizhōu. Sedangkan daerah Shíbì yang berbatasan dengan Provinsi Jiangxi, di Kabupaten Nínghuà, Provinsi Fujian merupakan daerah pusat pembentukan orang Hakka, dan mendapat julukan sebagai Tanah Leluhur Orang Hakka.

Méizhōu berada di daerah Timur Laut Provinsi Guangdong, timur berbatasan dengan Provinsi Fújiàn, selatan berbatasan dengan Cháozhōu, Jiēyáng dan Shànwěi di Provinsi Guǎngdōng. Méizhōu juga dinobatkan sebagai ibukota orang Hakka. Gànzhou biasa disebut dengan singkatan sebagai Qian. Gànzhōu berada dalam wilayah Provinsi Jiāngxī, dan merupakan pintu utama masuk ke Provinsi Jiāngxī dari tenggara. Selain itu Gànzhōu juga diapit oleh Provinsi Fújiàn, Guǎngdōng dan Hunan.

Daerah Tīngzhōu, atau lebih umum seharusnya disebut daerah Mǐnxī, merupakan daerah pemukiman orang Hakka di bagian barat dari Provinsi Fújiàn mencakup daerah seperti Tīngzhōu, Chángtīng, Liánchéng, Wǔpíng, Shàngháng, Yǒngdìng, Nínghuà, Qīngliú dan Míngxī. Selain itu, di Méizhōu yang mayoritas orang Guǎngfǔ (Konghu) juga terdapat banyak orang Hakka.

Orang Hakka mengunakan bahasa mereka sendiri yang disebut sebagai bahasa Ke atau bahasa Hakka. Bahasa Hakka merupakan salah satu dari tujuh bahasa daerah utama dalam bahasa suku Cina.

Tempat tinggal orang Hakka sangat unik, yang dikenal dengan sebutan Tǔlóu (rumah tanah). Tǔlóu ini terdiri dari berbagai jenis bentuk, ada yang berbentuk bulat, persegi empat, bentuk U, setengah bulat, bentuk segi delapan seperti bentuk bagua dan sebagainya.

Permukiman asli orang Hakka di daratan Tiongkok
Kaum Hakka adalah satu kelompok etnis yang unik, bahkan di China sendiri. Orang Hakka juga disebut juga dengan sebutan orang Khek, orang Khe Cia, dan nama lain, tergantung pengucapan dengan dialek yang mana. Cara pengucapan Hakka sendiri untuk dirinya adalah orang Hakka (Hak = tamu/pendatang; Ka = keluarga). Jadi secara harafiah, arti Hakka adalah ‘kaum pendatang’. Walaupun masih termasuk kelompok etnis Han, orang Hakka dianggap kaum perantau dalam China sendiri, karena itu dinamakan Hakka. Mereka yang dianggap ‘pribumi’ dalam satu tempat dinamakan kaum Punti (Pen-ti-ren = orang lokal).

Karena dianggap kaum pendatang, di China sendiri mereka harus berhati-hati, dan sering kali ada friksi dengan kaum Punti. Dan banyak dari mereka ada pada posisi yang tidak menguntungkan. Kalau orang local berdomisili di daerah pusat-pusat perdagangan, di kota-kota pelabuhan utama, seperti orang Hokkian, Canton, atau Teochew, orang Hakka masuk ke pedalaman, di daerah berbukit, dimana mereka kurang lebih terisolasi. Rumah-rumah clan Hakka bentuknya seperti benteng pertahanan dibangun di daerah perbukitan. Bentuk rumah itu mencerminkan perasaan tidak aman pada clan tersebut. Secara ekonomis, orang Hakka juga kurang beruntung dibanding dengan kaum Punti.

Tetapi orang Hakka terkenal keuletannya. Kalau orang tionghoa terkenal ulet, maka keuletan orang Hakka itu double-tionghoa. Ditempat-tempat perbukitan dimana daerah miring sukar untuk dikultivasi, orang Hakka bisa mengubah tempat yang tidak layak tanam menjadi tanah produktif. Mereka tahan banting, berusaha lebih keras dari penduduk local untuk mengimbangi posisi sosial mereka yang underdog.

Kondisi demikian menjadikan orang Hakka lebih independent-minded (berpikiran bebas), lebih mudah melepaskan diri dari tradisi dan menangkap idea baru untuk hidup. Tidak heran, orang Hakka adalah termasuk orang tionghoa yang cepat mengadopsi ide-ide Barat dibanding dengan yang lain dan mengkombinasikannya dengan budaya Hakka. Dan tekanan kepahitan hidup yang mereka rasakan menjadikan mereka lebih mudah menjadi kaum revolusioner, lebih progresif, dan lebih berani maju untuk menuntut pembaharuan, dan banyak pelopor-pelopor pembaharuan yang berasal dari Hakka. Fleksibilitas orang Hakka dalam menyerap ide-ide baru, tidak bersikeras untuk mempertahankan tradisi lama yang menghambat, menjadikan Hakka sebagai etnis yang unik dalam sejarah China modern.

Bukan kebetulan, kalau pemberontakan terbesar di China pada abad ke-19 yang melibatkan puluhan juta manusia, dan termasuk pemberontakan paling berdarah dalam sejarah kemanusiaan, dimotori oleh orang Hakka. Pemberontakan Taiping dengan pemimpinnya Hong Xiuquan hampir meruntuhkan Dinasti Qing. Sejarah Dunia terlalu kecil memberi perhatian pada Pemberontakan Taiping, yang sebenarnya jauh lebih besar daripada banyak pemberontakan-pemberontakan di Eropa. Dengan ditumpasnya pemberontakan Taiping dengan susah payah oleh pasukan Qing, menambah tekanan terhadap orang-orang Hakka tersebut.

Dalam kurun waktu yang tak begitu berbeda, pada paruh kedua Abad-19, terjadi lagi Perang Etnis yang paling berdarah di China, terjadi di Canton. Friksi antara orang Hakka dengan orang-orang local di propinsi itu memuncak dengan kekerasan berdarah selama bertahun-tahun, yang menyebabkan banyak orang Hakka terusir keluar dari daerah gejolak, dan berimigrasi ke seluruh dunia.

Pendapat lain yang mencoba menerangkan sikap revolusioner orang-orang Hakka ini adalah bahwa orang Hakka sebagai suku pendatang, tidak mempunyai akar di suatu daerah sekuat kaum Punti, dan tradisi kaum Hakka tidak sekonservatif tradisi kaum Punti. Ketika wanita-wanita elite dan kaya di China dulu mengecilkan kaki, orang Hakka tidak melakukannya karena mereka harus bekerja. Karena itu wanita Hakka sering disebut “wanita berkaki besar”, padahal sebenarnya kaum petani Punti juga banyak yang tidak membalut kaki dan berkaki besar juga. Mungkin streotype itu terjadi karena wanita Hakka banyak yang lebih berpikiran independen dan tidak terlalu tergantung dengan kaum lelaki, dibanding dengan wanita-wanita Punti.

Dari kelompok orang-orang terdesak ini, lahir pemimpin-pemimpin besar China modern. Dr. Sun Yat Sen, the Bapak Republik memulai deretan pemimpin-pemimpin besar China asal Hakka. Kemudian Keluarga Soong, yang sering disebut sebagai ‘dinasti keluarga’ terakhir dari China (seperti ‘dinasti’ Kennedy Amerika). Dari jajaran pemimpin komunis China, kita dapatkan Zhang Guotao, salah satu pendiri dan pimpinan Partai Komunis; Zhu De, pendiri Tentara Pembebasan Rakyat; Deng Xiaoping, pemimpin China yang membawa arus pemikiran pragmatis ke dalam ideologi komunis. Daftar pimpinan di China bisa berlanjut panjang, termasuk reformis Hu Yaobang, Sekretaris Jendral Partai yang tersingkir sesudah Peristiwa Tiananmen. Mao Zedong sendiri, dikabarkan sebagai orang Hakka yang berasal dari propinsi Hunan.

Walaupun etnis tionghoa majoritas di Singapore adalah Hokkian dan Teochew, lahir darinya kaum Hakka pemimpin Singapore Lee Kuan Yew, yang berpikiran progresif mendesak masyarakat Singapore keluar dari pemikiran tradisional ke pemikiran modern, dan tentu juga Lee Hsien Loong, Perdana Menteri saat ini. Di Taiwan, presiden sesudah turunnya keluarga Chiang, Lee Teng Hui, adalah orang Hakka; Chen Shui-bian, presiden Taiwan yang beroposisi dengan China daratan, juga orang Hakka. Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, orang Hakka dari propinsi Chiang Mai di Thailand Utara. Gubernur Jendral Canada yang untuk periode lalu, yang secara formal merupakan wakil Queen Elizabeth di Canada, Adriane Clarkson, terlahir dari keluarga Hakka Canada yang terkenal, keluarga Poy.

Untuk Hakka dari Indonesia, mungkin kita bisa lahirkan deret panjang. Termasuk sesuatu yang sebenarnya dilupakan sejarah, tetapi menurut saya tidak boleh dilupakan. Di Kalimantan Barat, sebelum Belanda mampu menanamkan kekuasaan kolonial disana, berdiri satu state independen dengan bentuk mirip Republik, yaitu Lan-fang (sering disebut Republic of Lan-fang). Sistem pemerintahan Lan-fang dibentuk dan dikoordinir oleh pekerja tambang dari Hakka.

Dalam sejarah Indonesia, ada banyak orang tionghoa yang naik posisi karena hubungan dengan pemerintah kolonial Belanda. Mereka dijadikan kapiten orang tionghoa. Di antara para kapiten itu, ada satu kapiten yang ikut berperan dalam proses modernisasi di China. Dia adalah kapiten dari Deli, Sumatera Utara, yang bernama Chang Yunan, seorang Hakka asal distrik Mei dekat Swatow. Salah satu issue modernisasi di China adalah pembentukan jalan kereta api. Pada awalnya hal itu ditentang oleh para konservatif yang selalu menentang apapun yang dianggap datang dari Barat dan baru. Pernah dibangun proyek kecil, lalu dibongkar. Kekalahan Dinasti Qing dari negara-negara Eropa dan Jepang, sedikit banyak disebabkan oleh masalah transportasi dan logistik yang parah. Sejak itu kereta api menjadi simbol desakan modernisasi di China. Tetapi ada masalah, dari mana biaya pembangunan jalan kereta api? Itu adalah proyek pembangunan besar. Chang Yunan dari Deli itu, adalah tionghoa perantau yang pertama melakukan investasi dalam jumlah besar untuk membangun jalan kereta api di distrik Teochew di Canton. Kenapa harus di Teochew? Karena dia orang Hakka yang berasal dari Meixian, dan saluran keluar orang Meixian ke pelabuhan besar adalah lewat Swatow, daerah Teochew. Jadi jalan kereta api itu akan membawa keuntungan besar pada orang Meixian. Investasi itu merupakan pendorong besar modernisasi sarana transportasi di China.

Dengan melihat sekilas peran orang Hakka, baik di China maupun di tempat-tempat lain di dunia, membuat kita berpikir, kenapa ada kelompok sub-etnis yang jumlahnya kecil bisa berperan sangat besar? Kemungkinan, jawabannya adalah, bahwa perubahan dimulai dari perubahan paradigma yang ada pada pikiran manusia. Orang Hakka lebih mampu untuk keluar dari kekangan tradisi yang penghambat pembaharuan, dan mereka cepat mengambil kesempatan sebagai pelopor.

Khusus di Bangka Belitung, saya sajikan sebuah studi kasus tentang konsistensi "HAKKA" dalam transformasi arsitektur ragam budaya yang khusus membahas tentang keaslian Khek Hakka di Kampung Gedong, Kecamatan Belinyu, Klik link berikut

4 comments: